Rabu, 10 Muharram 1430 / 7 January 2009 
 

Perkantoran Ciputat Indah Permai
Jl. Ir. H. Juanda No. 50
Blok B-8 Ciputat 15419
Telp. +62 21 741 4482
Fax. +62 21 742 0664
Email : info@aksicepattanggap.com
 
ACT diaudit oleh KAP Syarif Basyir, a member of Russell Bedford International

 
Kemanusiaan :

Bank Central Asia
Acc. No. 676 030 3133
(Swift Code: Cenaidja)

Bank Syariah Mandiri
Acc. No. 004 011 9999

Bank Mandiri
Acc. No. 128 000 4555 808

Bank Muamalat Indonesia
Acc. No. 304 0022 915

Bank Negara Indonesia Syariah
Acc. No. 009 611 0239

Zakat :

Bank Syariah Mandiri
Acc. No. 101 000 9990

Bank Mandiri
Acc. No. 128 000 4793 136

Infaq/Sedekah :

Bank Central Asia
Acc. No. 676 030 0860

Bank Permata Syariah
Acc. No. 0971 001224

STRATEGI SUSTAINABILITY LIVELIHOOD DALAM PERSPEKTIF PROGRAM CBDRM*
2008-08-17 17:57:37

 

I. Pendahuluan

  1. Livelihood berarti penghidupan : merupakan kemampuan atau kapasitas subjek (baik personal maupun komunitas) dalam menciptakan dan mengelola asset kehidupanya   
  2. Sustainability berarti keberlanjutan : merupakan kemampuan subjek, baik personal maupun komunitas dalam  beradaptasi dengan perubahan yang terjadi sehingga mampu mempertahankan dan meningkatkan pencapaian keberlanjutan penghidupannya ke taraf yang lebih baik.
  3. Jadi Sustainability Livelihood merupaka kemampuan atau kapasitas subjek, baik personal maupun komunitas dalam menciptakan dan mengelola asset  yang dimilikinya atau yang harus dimilikinya sebagai jaminan keberlanjutan penghidupanya.
  4. Istilah Sustainability Livelihood selanjutnya kita sebut SL

 II. Unsur-Unsur Pokok Sustainability Lielihood (SL)

  1. Inti SL adalah kemampuan mengelola  asset dan atau akses
  2. Kunci keberhasilan SL dipengaruhi atau ditentukan oleh  dua hal yaitu :

·         Kemampuan masyarakat mengelola aset internal

·         Dan, kemampuan masyarkat mengelola akses eksternal

  1. Secara umum asset dan akses  yang akan menentukan SL terdiri dari  : 

·         sumberdaya sosial

·         sumberdaya manusia

·         sumberdaya alam

·         sumberdaya infrastruktur

·         dan sumberdaya  keuangan (financial)

 III. Sustainability Livelihood (SL) Dalam Perspektif     CBDRM

1.      Secara umum SL dalam perspsktif CBDRM  adalah kemampuan komunitas masyarakat sebagai subjek dalam mengelola (menciptakan, mempertahankan, dan meningkatkan) asset dan akses keberlanjutan penghidupannya dari kerentanan risiko bencana.

2.      CBDRM, setidaknya  terdiri dari dua hal yang perlu dijelaskan, yaitu  komunitas (community based) dan risiko bencana (disaster risk

3.      Community based  dan urgensinya dalam konteks SL

  • Komunitas merupakan unsur  lingkungan kecil (mikro) dari lingkungan  demografi, sosial, ekonomi, pranata, dan adat istiadat tertentu).   
  • Komunitas bisa dikategorisasi berdasarkan segmen, interest, atau isu.  
  • Misalnya, klasifikasi komunitas  berdasarkan wilayah (terpencil, desa, kota), strata sosio-ekonomi ( minus, surplus), demografi (usia, jenis kelamin), sosio-budaya (terbuka- tertutup), pendidikan (anak sekolah), profesi (petani, nelayan, buruh), dll
  • Komunitas merupakan objek sekaligus subjek dari risiko bencana
  • Sebagai objek dari risiko bencana, berarti masyarakat komunitas adalah kelompok rentan bencana
  • Sebagai subjek risiko bencana, berarti komunitas  adalah pelaku utama penanganan bencana.
  • Peran pihak eksternal hanyalah sebagai pemberi stimulasi (pendamping)
  • Oleh karena itu inti pertahanan bencana sesungguhnya adalah komunitas,
  • Sehingga berbagai pihak, khususnya para praktisi bencana menjadikan komunitas masyarakat (community based) sebagai sasaran intervensi program penanganan bencana.
  • Komunitas merupakan representatif dari masyarakat luas (makro)
  • Intervensi program pada level komunitas dipastikan akan lebih efektif dan  lebih terukur
  • Sehingga implementasi program CBDRM pada level komunitas akan  lebih mudah dijadikan model untuk direplikasi.

4.      Risiko Bencana dalam konteks sustainability livelihood (SL) :

  • Risiko bencana merupakan  konsekuensi atau dampak dari kejadian bencana, baik langsung maupun tidak langsung.
  • Besar kecilnya  risiko bencana sangat tergantung kepada skala bencana yang terjadi.
  • Risiko dan dampak bencana menjadi argumen utama pentingnya penanganan bencana melalui program sustainability livelihood secara profesional.
  • Risiko bencana sesungguhnya merupakan ancaman keberlanjutan penghidupan (SL) komunitas masyarakat,
  • Dalam konteks CBDRM, SL harus diposisikan sebagai  orientasi, sasaran, tujuan, dan parameter  utama program penanggulangan bencana yang berarti pula kegagalan CBDRM    
  • Kegagalan CBDRM dan dapat ditunjukkan dalam  beberapa fakta : (a) pasca bencana masyarakat tetap menjadi miskin, bahkan lebih miskin sehingga bencana merupakan mesin kemiskinan laten, (b) kriminalitas di daerah bencana makin merajalela, (c) terjadi disharmoni sosial, dan berbagai penyakit sosial lainya juga mewabah.             

 IV. Tujuan dan Sasaran Program SL

  1. Menjadikan masyarakat sebagi basis utama penanganan bencana
  2. Pemberdayaan potensi lokal dalam penanganan bencana  
  3. Kemandirian komunitas lokal dalam penanganan bencana
  4. Terciptanya komunitas masyarakat dan lingkungan tahan bencana

V. Alasan Strategis Implementasi SL Dalam perspektif CBDRM

1. Landasan Filosofis

  • Bencana merupakan sebuah peristiwa kemanusiaan yang mampu menggerakan kepedulian masyarakat lintas sektoral secara masal
  • Bencana merupakan stimulan sekaligus motivator alamiah yang bisa menginspirasi masyarakat untuk bangkit
  • Bencana merupakan isu universal yang sangat efektif untuk menjalin kebersamaan dan solidaritas
  • Peristiwa bencana potensial untuk menjadi modal sosial pembangunan masyarakat
  • Bencana dengan segala dampaknya merupakan spirit hidup masyarakat

2. Landasan operasional :

  • Bencana mempunyai dampak multidimensi  yang buruk bagi  masyarakat jika bencana tidak ditangani dengan profesional
  • Modal sosial masyarakat  merupakan modal utama dalam penanganan bencana
  • Komunitas masyarakat merupakan subjek utama penanganan bencana, bukan objek
  • Kemampuan penanganan bencana  merupakan ukuran ketangguhan manajemen komunitas masyarakat.
  • Sehingga kemampuan Negara dalam penanganan bencana menjadi ukuran ketangguhan manajemen negara

 VI. Hambatan-hambatan Impelemnetasi SL dan CBDRM

1. Hambatan Internal

  • Kemiskinan dan keterbelakangan pengetahuan masyarakat  
  • Faktor lokasi komunitas, lokasi tempat tinggal masyarakat (terpencil, terisolir)
  • Suatu komunitas menjadi langganan beragam jenis bencana (banjir bencana : beragam bencana)
  • Meskipun sangat mungkin masyarakat mampu membangun rumah tahan gempa, namun tak selalu bangunan tersebut tahan bencana yang lainya, misalnya : belum tentu bisa tahan  bencana banjir

2. Hambatan eksternal

  • Pendekatan program yang menempatkan komunitas masyarakat lokal sebagai objek belaka
  • Pendekatan program berorientasi proyek bisnis belaka
  • Model implementasi proram secara tidak langsung menciptakan ketergantungan masyarakat (hanya tertumpu pada program karitatif secara berkepanjangan )
  • Kebijakan penanganan yang kurang tepat, tidak bervisi kemanusiaan, tidak produktif, menyakiti perasaan masyarakat dengan janji angin surga belaka
  • Kebijakan pemerintah tidak berbasis CBDRM, masyarakat selalu diposisikan sebagai objek.
  • Penyalahgunaan hak-hak korban  bencana menyebabkan gagalnya SL direalisasikan

VII. Strategi Implementasi Program SL

1. Kriteria Program

  • Program CBDRM harus strategis, bukan cuma sekedar bagi-bagi sembako
  • Program CBDRM harus berorientasi kemandirian masyarakat
  • Program CBDRM harus mampu menstimulan dan menginspirasi berbagai pihak untuk terlibat
  • Sasaran program CBDRM harus berdampak massal.
  • Program harus menjadi model (pilot project) sehingga siap untuk direplikasi
  • Program CBDRM harus bersifat multiplier effect. Manfaat program harus menyebar ke semua arah, ke semua stakeholders
  • Dan program CBDRM harus berkesinambungan dan menjadi jaminan penghidupan komunitas (SL) 
  • Implementasi program CBDRM harus sesuai kearifan dan potensi lokal

 2. Ruang lingkup aktivitas program :

  • Kembangkan model manajemen bencana terpadu (TDM), mencakup :
  • Program pencegahan bencana,
  • Program  mitigasi bencana,
  • Program  kesiapsiagaan bencana,
  • Program emergency bencana
  • Program rehabilitasi bencana dan program rekonstruksi bencana

3. Pendekatan

  • Pada dasarnya program adalah milik masyarakat dan kebutuhan  msyarakat
  • Libatkan masyarakat secara total mulai dari tahap perencanaan program  hingga implementasi dan pengembangan program
  • Gunakan komunikasi persuasif
  • Kembangkan budaya kerelawanan masyarakat karena resources program  adalah relawan
  • Pola hubungan dengan masyarakat bukan hubungan subjek dan objek, 
  • Hadirkan kelembagaan bencana pada tingkat komunitas masyarakat
  • Implementasikan pendidikan kebencanaan sampai pada level komunitas masyarakat
  • Jalin sinergi antar pihak terkait, sebab menangani bencana memerlukan kekuatan kebersamaan.

 VIII. Penutup

Bencana merupakan stimulan dan pesan illahiyah agar kita bertaqwa. Meresponnya dengan profesional adalah amal shaleh kita.  Jika bencana adalah tantangan, maka tantangan  sesungguhnya adalah moda besar agar kita menjadi kuat. Kekuatan dan ketangguhan masyarakat dan bangsa ini menghadapi bencana adalah peluang besar untuk menjadikan bangsa kita tetap hidup, tumbuh,  besar, kuat, dan terhormat. Sesungguhnya Allah SWT lebih mencintai  hambaNya yang kuat. (ahy, act).

Sanur Bali, 19 Agustus 2008

Ahyudin

 

 



Donation List
click here to see donors and their donation

Volunteer Sign Up

Volunteer List

Subscribe ACT Mailing List



Bencana Stimulan Ilahiyah
"

Bencana, dimanapun, kapanpun, sebesar apapun, sesungguhnya merupakan program stimulan Allah SWT  untuk direspon – dikelola manusia. Sudah pasti ada hubungan kausalitas antara sebab dan akibat ini. Sunnatullah! Artinya tak mungkin terjadi sesuatu tanpa ada penyebabnya. Sesuatu yang buruk penyebabnya adalah keburukan. Begitu pula sebaliknya, kebaikan itu adalah buah dari kebaikan. Jadi tak mungkin ada bencana tanpa ada penyebabnya. Jika bencana itu kita rasakan sebagai kepahitan, kegelapan, siksaan, kepedihan, dan sejenisnya maka hal itu buah dari yang semakna dengan itu.

"

Ahyudin, Direktur Eksekutif

 


 
© copyright aksicepattanggap.com