|
Ayo Peduli Rawan Pangan Cegah Busung Lapar, Selamatkan Generasi Bangsa 2008-07-03 11:00:18
Krisis pangan bukan perkara main-main bagi masyarakat miskin. Ibaratnya sudah jatuh tertimpa tangga pula. Kemiskinan yang sudah mendera masyarakat bawah selama ini akan semakin serius. Kesulitan hidup masyarakat miskin akan menjadi sempurna. Bukan mustahil fenomena gizi buruk dan busung lapar akan mewabah, menimpa masyarakat miskin secara luas. Ini sangat membahayakan. Bisa menjadi ancaman lost generation. Sebuah taruhan bagi harga diri dan eksistensi masa depan bangsa. Apalagi jumlah masyarakat miskin saat ini tidak kurang dari 60 juta jiwa. Sementara penderita gizi buruk sudah mencapai 13 juta jiwa (WFP).
Penyebab krisis pangan bukan semata-mata karena kenaikan BBM. Kemiskinan yang selama ini mendera juga menjadi akar penyebabnya. Kejadian bencana alam yang bertubi-tubi menimpa masyarakat, juga sangat berdampak pada semakin maraknya kemiskinan. Penyebab lainya adalah masalah pengangguran dan tingkat inflasi yang makin meroket. Semua ini pada akhirnya akan menyebabkan rendahnya daya beli masyarakat. Degan daya beli masyarakat yang melorot ini, jangankan mampu ongkosi biaya pendidikan, kesehatan, papan, sandang, sekedar beli pangan murah pun menjadi sangat berat.
Sebagai lembaga kemanusiaan, ACT - Aksi Cepat Tanggap bersama masyarakat donor, jejaring relawan, dan mitra programnya turut ambil inisiatif mencari solusinya, baik jangka pendek melalui program emergensi maupun jangka panjang melalui program pemberdayaan. Impelementasi aktivitas programnya berbasis komunitas. Adapun tajuk program pangan ACT adalah : “Ayo Peduli Rawan Pangan : Cegah Busung Lapar, Selamatkan Generasi Bangsa!”
Sasaran utama program ini adalah masyarakat miskin korban bencana, anak-anak sekolah di berbagai kawasan miskin, balita dan ibu- ibu khususnya ibu hamil dan menyusui di berbagai komunitas masyarakat miskin.
Jenis kegiatan programnya antara lain mencakup :
(1) program bantuan pangan bagi keluarga miskin di daerah bencana dan komunitas miskin lainya melalui program padat karya. Program padat karya untuk pangan ini menjadi paket program recovery bencana yang pada umumnya masih menjadi masalah hingga saat ini. Kegiatan padat karya akan difokuskan pada perbaikan sanitasi lingkungan, perbaikan fasilitas umum, pembersihan lingkungan dari sisa-sisa puing bencana, dan mengikuti program edukasi tentang ketahanan pangan keluarga. Melalui program padat karya ini, masyarakat akan mendapatkan tiga keuntungan sekaligus, yaitu mendapat pangan , pemulihan lingkungan mereka, dan pengetahuan tentang ketahanan pangan.
Selain itu, kekuatan program ini adalah bahwa program ini didesain untuk mencegah ketergantungan masyarakat agar tidak melestarikan kemiskinan, menjadikan masyarakat sebagai subjek program, dan pemberdayaan sumberdaya lokal. Semua material bantuan sedapat mungkin akan diadakan dari komunitas lokal. Program ini ditargetkan akan menjamin kebutuan pangan selama satu bulan bagi setiap keluarga. Setelah satu bulan program akan dilanjutkan dengan program pemberdayaan pangan komunitas.
(2) program gizi bagi anak-anak sekolah di kawasan komunitas miskin. Program ini sangat penting mengingat dampak buruk krisis atau rawan pangan ini potensial menimpa komunitas rentan yaitu anak-anak, khususnya anak-anak jenjang sekolah dasar (SD). TK biasanya tidak ada di komunitas masyarakat miskin. Jenis kegiatannya antara lain adalah memberikan suplai pangan bergizi untuk menjadi konsumsi anak-anak selama satu bulan. Diselenggarakan kerjasama dengan pihak sekolah. Material pangan bisa terdiri dari susu, roti, dan makanan bergizi lainya. Selain itu anak-anak akan diberikan materi pengenalan tentang gizi secara khusus dan pengan secara umum, permainan yang menghibur, menyenangkan, menyemangati, dan mendidik.
(3) Program gizi bagi balita, ibu hamil dan menyusui di komunitas masyarakat miskin. Balita, ibu hamil dan menyusui di komunitas masyarakat miskin akan menjadi potensi yang berisiko tinggi akibat krisis pangan ini. Data penderita gizi buruk dan busung lapar lebih banyak dialami oleh komunitas ini. Implementasi program ini sepenuhnya akan melibatkan jaringan relawan MRI (Masyrakat Relawan Indonesia), sebuah lembaga khusus yang dibentuk ACT sebagai operator program. Strateginya adalah jemput bola, dimana para relawan akan melakukan survey, identifikasi, dan melakukan bantuan langsung. Selain itu sasaran aktivitas program ini adalah pemberdayaan posyandu, sinerji dengan pihak-pihak terkait.
Program pangan ini lebih berorientasi pada pencegahan terjadinya wabah gizi buruk dan busung lapar, selain juga secara kuratif intensif melakukan advokasi. Tujuan program ini adalah menciptakan model program penanganan rawan pangan untuk direplikasi di berbagai wilayah. Target program ini adalah mampu melayani bantuan pangan pada sebanyak-banyaknya komunitas masyarakat miskin potensial busung lapar dan gizi buruk. Kunci sukses program ini adalah kepedulian masyarakat dan sinerji antar stakeholders. Lebih banyak memperbincangkan persoalan kriris pangan ini melalui berbagai forum diskusi dan perdebatan yang panas tentu tak ada salahnya, meskipun menginisiasi langsung program nyata untuk berbuat nyata bagi masyarakat pastilah jauh lebih penting.
Ahyudin
Direktur Eksekutif ACT
|