Rabu, 8 Jumadil Awwal 1429 / 14 May 2008 
 

Perkantoran Ciputat Indah Permai
Jl. Ir. H. Juanda No. 50
Blok B-8 Ciputat 15419
Telp. +62 21 741 4482
Fax. +62 21 742 0664
Email : info@aksicepattanggap.com
 
Jl. Imogiri Timur Km. 6 No. 5
Nglebeng, Tamanan Banguntapan, Bantul 55191, Jogjakarta
Telp. +62 274 383839,
Fax. +62 274 7839292
 
Kemanusiaan :

Bank Central Asia
Acc. No. 676 030 3133
(Swift Code: Cenaidja)

Bank Syariah Mandiri
Acc. No. 004 011 9999

Bank Mandiri
Acc. No. 128 000 4555 808

Bank Muamalat Indonesia
Acc. No. 304 0022 915

Bank Negara Indonesia Syariah
Acc. No. 009 611 0239

Zakat :

Bank Syariah Mandiri
Acc. No. 101 000 9990

Bank Mandiri
Acc. No. 128 000 4793 136

Infaq/Sedekah :

Bank Central Asia
Acc. No. 676 030 0860

Bank Permata Syariah
Acc. No. 0971 001224

Bosan Jadi Penerima Daging Qurban
2007-11-28 09:13:36

Tahun lalu, seorang sahabat bertandang ke rumah dan mengungkapkan satu keinginan orang tuanya. “Ibu saya bilang sudah bosan menjadi penerima daging qurban. Ibu ingin sekali tahun depan keluarga kami bisa menyembelih seekor hewan qurban,” begitu lirih sahabat saya.

Saya menyentuh tangannya, memegangnya erat-erat sambil berkata, “kamu bisa mewujudkan keinginan ibumu. Tahun depan itu masih ratusan hari lagi, dan sangat mungkin itu bisa terealisasi,” saya menepuk semangatnya.

Apa yang terjadi setelah hampir satu tahun kemudian adalah sesuatu yang sudah bisa terduga. Belum lama ia menelepon dan bertanya tentang harga seekor kambing untuk qurban. “Saya punya tabungan delapan ratus ribu, apakah sudah cukup untuk membeli seekor kambing?” tanyanya bersemangat. Tentu saja uang sejumlah itu sudah lebih dari cukup untuk seekor kambing.

Ia pun membawa kabar gembira itu kepada ibunya di rumah dan mengatakan akan segera ada hewan qurban di rumah itu. Semua anggota melonjak kegirangan dan air mata bahagia tak tertahankan tumpah ruah bersamaan dengan datangnya kabar tersebut. Bahwa ia, sahabat saya itu, lelaki satu-satunya di keluarga itu semenjak sang Ayah berpulang sebelas tahun yang lalu, akhirnya bisa mewujudkan mimpi sang ibu untuk berqurban.

Menurutnya, lantaran keluarga mereka termasuk dalam kategori keluarga miskin, maka setiap tahun pula mereka selalu mendapatkan jatah zakat fitrah maupun daging qurban. Bahkan setiap kali ada perayaan hari besar Islam yang menyertakan acara santunan bagi anak-anak yatim piatu, ia beserta ketiga adiknya tak pernah terlewat dalam catatan panitia penyelenggara sebagai penerima santunan. Tidak hanya itu, bahkan sang ibu pun masuk dalam daftar penerima, dengan status janda miskin.

Tahun ini, merupakan tahun paling membahagiakan di keluarga itu. Bayangkan, bukan bermaksud menyombongkan diri jika di hari raya Idul Adha nanti keluarga ini akan menolak kiriman daging qurban dari panitia di masjid. Dengan sedikit bangga mereka akan berkata, “Terima kasih, kami keluarga pequrban. Silahkan berikan kepada yang lain yang lebih berhak”.

Kalimat bangga semacam ini pula yang belum lama ini mereka miliki menjelang hari raya Idul Fitri. Keluarga itu memohon kepada panitia zakat untuk tak memasukkan namanya dalam daftar mustahik tahun ini. Dan luar biasa, hal itu memang mereka lakukan karena keinginan kuat mereka untuk memerbaiki kualitas dan taraf hidup mereka. “Siapa yang mau seumur hidup menyandang status fakir miskin? Kami harus berubah”.

Sepakat dengan semangat keluarga ini. Bagaimana pun hidup dibayangi belas kasihan orang lain tetaplah tidak nyaman. Senikmat-nikmatnya makanan adalah yang dihasilkan dari jerih payah dan hasil memeras keringat sendiri, bukan dari pemberian orang lain, bukan dari usaha tangan di bawah alias meminta-minta.

Si Sulung, sahabat saya ini pun membawa keluarganya pada posisi yang lebih terhormat. Mereka bukan lagi golongan mustahik, melainkan muzakki. Ia senantiasa bersedekah dan berinfak, tak lagi berharap sedekah orang untuk menghidupi ibu dan adik-adiknya. Dan di hari raya Idul Qurban tahun ini, keluarga ini benar-benar akan mengatakan, “kami bosan menjadi penerima daging qurban”.

Sungguh, berinfak, sedekah, membayar zakat, juga berqurban, tak semata menjalankan perintah Allah. Secara langsung semua aktifitas ‘tangan diatas’ ini serta merta meningkatkan derajat seseorang. Baik derajat ketaqwaan di mata Allah, maupun derajat sosial di mata masyarakat sekitarnya. Wallaahu ‘a’lam (gaw)



Donation List
click here to see donors and their donation

Volunteer Sign Up

Volunteer List

Subscribe ACT Mailing List



Jangan Lupakan (Tsunami) Aceh
"Kini, setelah tiga tahun tsunami, masihkan harapan (kerelawanan) dan semangat kepedulian itu terus terjaga? Jika di Aceh –juga di berbagai lokasi bencana lain seperti di Jogjakarta dan lainnya- masih tak terbilang warga yang tetap tinggal di barak-barak atau tenda pengungsi, kemanakah semangat kepedulian itu? Cukupkah kepedulian dan kerelawanan ditunjukkan hanya dalam sepekan atau sebulan pasca bencana?"
Bayu Gawtama, Communication Senior Manager ACT

 


 
© copyright aksicepattanggap.com