|
Spirit Indonesia di ACT 2007-10-30 19:06:42
Saat berlangsungnya 2nd Indonesia Sharia Expo, 24-28 Oktober 2007 yang berlangsung di Jakarta Convention Center lalu, seorang pengunjung stand ACT bertanya, “ACT ini lembaga asing? Dari negara mana?”
Bisa dimaklumi jika pertanyaan itu terlontar, sebab jika hanya melihat nama dan tulisan ACT, orang lebih sering membacanya “Act” yang maksudnya action. Tetapi lebih bisa dimaklumi karena ternyata orang yang bertanya itu belum lama tinggal di Indonesia setelah sekian tahun belajar di luar negeri. Sebelumnya kami sempat merasa sedikit harus berintrospeksi, bahwa selama ini sosialisasi dan kampanye lembaga ini masih sangat minim.
Terlepas bahwa ACT memang harus terus berupaya lebih baik lagi dalam mensosialisasika programnya, dan berhubung ada pertanyaan tentang asal muasal ACT, perlu diketahui bahwa ACT asli made in Indonesia. Lahir dan didirikan di Indonesia, semua pengurus dan relawannya pun asli orang Indonesia. Meski lingkup program ACT tidak hanya untuk negeri ini saja, melainkan jauh melewati batas wilayah Indonesia.
Belum cukup? Jika demikian perlu dijabarkan beberapa program dan lembaga inisiasi ACT yang bernuansa Indonesia. Ini sekaligus menjadi pelengkap bahwa nasionalisme begitu kuat mewarnai langkah dan gerak lembaga kemanusiaan ini.
Pertama, MRI (Masyarakat Relawan Indonesia), sebuah lembaga yang digagas ACT agar menjadi wadah yang menampung para relawan seluruh Indonesia. Semangat kepedulian yang dimiliki para relawan sangat luar biasa, itu terbukti ketika tsunami meluluhlantakkan Nangroe Aceh Darussalam. Semangat yang sama pun terlihat di berbagai bencana lainnya, di Jogjakarta, Pangandaran dan di hampir seluruh wilayah bencana negeri ini. Sudah semestinya semangat itu terbingkai dalam satu wadah agar tak kan luntur meski tak sedang ada bencana.
Kedua, DMII (Disaster Management Institute of Indonesia). Kami menyebutnya ‘di em wan wan” hanya agar terdengar lebih ‘emergency’ karena lebih dekat dengan 911 (nain wan wan). Semua tahu, bahwa angka 911 adalah angka emergency, dan DMII pun diharapkan sangat identik dengan semua persoalan kebencanaan. Program DMII meliputi training, consulting dan research. Salah satu program besar yang digarap DMII bersama ACT adalah pelatihan kesiapsiagaan gempa di Senayan beberapa waktu lalu.
Ketiga, Indonesia Sekolah (IS), sebuah program reguler dan kontinyu dengan satu tujuan, “tidak ada anak Indonesia yang tidak sekolah”. Itu artinya, sepanjang masih ada anak di negeri ini yang tidak sekolah, maka program ini akan terus berlangsung dan tidak boleh berhenti. Tiga program utama dari Indonesia Sekolah adalah, (1) Relawan Pendidikan, salah satunya menyediakan tenaga relawan sebagai guru di daerah-daerah minim tenaga pendidik. (11) Sister School, sinergi antara anak-anak sekolah yang berkemampuan lebih agar tumbuh jiwa kepeduliannya dengan membantu saudara-saudara mereka dari sekolah minim. (111) Korporat Asuh, semacam gerakan orang tua asuh, hanya saja bedanya program ini langsung dilakukan oleh sebuah perusahaan. Misalnya, perusahaan X membiayai 300 anak kurang mampu di lokasi bencana Jogjakarta.
Yang keempat, Sehatindonesia (SI). Ini bagian dari kepedulian ACT untuk masalah kesehatan negeri ini. Seperti halnya pendidikan, kesehatan adalah masalah utama negeri ini. Dua masalah tersebut (pendidikan dan kesehatan) bukan hanya pekerjaan yang mesti diselesaikan oleh pemerintah saja. Ini PR bersama yang menjadi kepentingan bersama pula untuk menyelesaikannya.
Dari empat program di atas saja, sangat terasa nuansa nasionalisme ACT. Semoga cukup untuk menggambarkan betapa warna program ACT sangat Indonesia. Bravo Indonesiana! (gaw).
|