|
Selain rumah, sekolah jadi sasaran fogging ACT 2008-04-28 16:59:00
Tuban, Kamis(24/04/08). Aksi fogging ACT bersama Exxonmobil bergerak ke desa Balun kecamatan Cepu, Blora. Kampung Gendeng, desa Balun Pinggiran dan beberapa sekolah menjadi wilayah fogging ACT Rabu(23/04/08). Sekolah yang disambangi fogging antara lain SD Nglanjuk 2, SD Balun I dan II, Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah sekaligus Panti Asuhan Muhammadiyah. Aksi dilanjutkan menuju desa Glagahsari kecamatan Soko, Tuban pada Kamis paginya.
Cici Semani, Kepala Sekolah SD Nglanjuk 2 Blora mengucapkan terima kasih atas bantuan fogging dan abatisasi melalui relawan ACT Sri Eddy Kuncoro. Kepala Sekolah yang memiliki 99 siswa ini mengungkapkan pada relawan ACT, bahwa Sekolah Dasar yang dipimpinnya merupakan sekolah ‘mewah’ alias mepet sawah dan memang berlangganan banjir dari tahun ke tahun.
Eddy menambahkan bahwa di SD Balun II Blora ada tiga orang murid yang terjangkit DBD pasca banjir lalu, dan hal tersebut wajar saja terjadi, kondisi sekolah yang dekat sawah pasti rawan sarang nyamuk.
Setelah Blora, tim bergerak desa Glagahsari Tuban. Di desa ini, 347 rumah warga yang tersebar dalam 10 RT difogging. Sama seperti di desa Balun, fogging dan abatisasi pun dilakukan di Taman Quran dan Madrasah Ibtidaiyah Ar Rosyad, Madrasah Ibtidaiyah Darul Huda dan SMPN 3 Soko.
Selain melakukan fogging dan abatisasi, tentunya ada aksi lain yang bisa dilakukan untuk mencagah DBD. Sepeti yang ramai digemakan pemerintah dan didukung ACT, yaitu 3 M; menguras, menutup dan mengubur. Menguras wadah tempat air secara berkala agar tidak menjadi sarang berkembangbiak nyamuk, menutup tempat-tempat yang sekiranya bisa menjadi sarang nyamuk dan mengubur wadah-wadah bekas pakai yang sudah tidak digunakan lagi.
“Memang selain rumah warga, sekolah merupakan sasaran wilayah fogging dan abatisasi, karena biasanya anak-anak lebih rentan DBD. Walaupun demikian, DBD pun harus diwaspadai oleh semua golongan usia,” ungkap Eddy.
Masih menurut Eddy, “ tiap sekolah yang kami fogging pasti jumlah muridnya puluhan dan ada juga yang mencapai ratusan, nah bagaimana jadinya jika tempat mereka sekolah merupakan sarang yang nyaman bagi Aedes Agypti, bisa-bisa DBD mewabah.”
|