Jumat, 22 Dzul Qo'idah 1429 / 21 November 2008 
 

Perkantoran Ciputat Indah Permai
Jl. Ir. H. Juanda No. 50
Blok B-8 Ciputat 15419
Telp. +62 21 741 4482
Fax. +62 21 742 0664
Email : info@aksicepattanggap.com
 
ACT diaudit oleh KAP Syarif Basyir, a member of Russell Bedford International

 
Kemanusiaan :

Bank Central Asia
Acc. No. 676 030 3133
(Swift Code: Cenaidja)

Bank Syariah Mandiri
Acc. No. 004 011 9999

Bank Mandiri
Acc. No. 128 000 4555 808

Bank Muamalat Indonesia
Acc. No. 304 0022 915

Bank Negara Indonesia Syariah
Acc. No. 009 611 0239

Zakat :

Bank Syariah Mandiri
Acc. No. 101 000 9990

Bank Mandiri
Acc. No. 128 000 4793 136

Infaq/Sedekah :

Bank Central Asia
Acc. No. 676 030 0860

Bank Permata Syariah
Acc. No. 0971 001224

Soft Launch Program Pendidikan “INDONESIA SEKOLAH”
2007-06-26 15:01:12

Binar mata Asiah memancarkan sebuah harapan yang tak mampu terlukiskan secara jelas. Namun siapa pun yang melihatnya akan mampu mengambil kesimpulan secara cepat, bahwa gadis kecil itu sangat ingin bersekolah. Setiap hari, Asiah selalu menyempatkan diri memandangi gedung Sekolah Dasar Negeri (SDN) 01 Perumnas Tangerang yang tak jauh dari tempat tinggalnya. Dan nyatanya, memang hanya sebatas pagar sekolah yang mampu disinggahinya, padahal anak-anak lain seusianya sudah duduk di bangku kelas  4 sekolah dasar.

Ketika usianya baru empat tahun, Ayahnya meninggal dunia setelah mengalami kecelakaan. Sementara ibunya sudah terlebih dulu dipanggil Allah SWT saat melahirkan si kecil Asiah. Kini Asiah hanya tinggal bersama kakak dan pamannya yang belum sanggup memasukkan Asiah ke sekolah. “bukan cuma biaya masuk sekolah, untuk buku dan peralatan sekolah pun kami belum sanggup. Semoga Asiah bisa mengerti…,” terang Sardi, paman Asiah yang bekerja serabutan.

Lain Asiah lain pula Abdurrahman di Purwakarta. Maman, panggilan bocah berusia sebelas tahun ini sebelumnya pernah sekolah. Bencana longsor yang pernah melanda tempat tinggalnya di bulan Februari 2006, memaksanya tidak lagi bisa bersekolah. Rumahnya hancur tertimpa longsor, sekaligus menimbun seluruh isi rumah tersebut. Beruntung memang Maman dan orang tuanya tidak menjadi korban. Hanya saja semenjak itu Keluarga Maman dan puluhan keluarga lainnya yang rumahnya tertimbun mendadak menjadi “orang tak punya”.

Maman tidak lagi memiliki baju sekolah, tas, sepatu dan buku-buku pelajaran yang pernah dimilikiknya. Semuanya ludes tertimbun tanah longsor bersama rumah kecil yang selama ini menjadi tempatnya berteduh. Dan nyatanya, hingga hari ini Maman belum kembali ke sekolah lagi.

Ada lagi Gunawan di Bantul, Jogjakarta. Semestinya di tahun ajaran baru ini Gunawan masuk kelas 1 SMP (Sekolah Menengah Pertama). Namun Gunawan belum lagi bersekolah sejak satu tahun lalu. Rumah Gunawan di Dusun Gunungan, Plered, Bantul, luluh lantak saat gempa bumi mengguncang Jogjakarta dan Jawa Tengah, Mei 2006 silam. Sejak saat itu, orangtua Gunawan kehilangan segalanya. Butuh waktu cukup lama bagi keluarga itu untuk pulih dan bangkit dari keterpurukan. Dan salah satu yang harus dikorbankan adalah sekolah Gunawan. Kenyataannya, hingga satu tahun lebih pasca gempa bocah itu belum juga bisa bersekolah. Mahalnya biaya sekolah dan peralatan serta buku-buku menjadi alasan orang tuanya yang belum mampu menyekolahkan kembali anak-anaknya.

Sebuah berita di salah satu harian ibu kota menuliskan, para buruh tani di Rancabolang, Kota Bandung, serta buruh di kota-kota lain di Jawa Barat, mengalami kesulitan menyekolahkan anak-anaknya. Pendapatan yang mereka peroleh tak cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar hidup mereka.

 

Para buruh tani berpenghasilan rata-rata Rp 1 juta per empat bulan. Dengan pendapatan sekecil ini sejumlah buruh tani di Rancabolang mengaku sulit menyekolahkan anak-anak mereka. Bahkan, buruh-buruh tani itu mengaku memiliki anak yang putus sekolah.

 

"Dua tahun lalu, anak saya terpaksa keluar dari sekolah menjelang Ebtanas," kata Eem (41) tentang nasib anaknya Eep Saiful Anwar (13).

 

Eep keluar karena tidak bisa membayar tunggakan sekolah menjelang diselenggarakannya Evaluasi Belajar Tahap Akhir Nasional (Ebtanas) untuk Sekolah Dasar. Kini Eep hanya tinggal di rumah.

"Saya sakit hati waktu dia terpaksa keluar. Saya sudah bolak-balik datang ke sekolahnya untuk meminta keringanan biaya. Tapi, guru dan kepala sekolahnya bilang kalau tidak punya uang berhenti saja," ujar Eem tentang ketidakpedulian pendidik di sebuah SD di daerah Rancabolang.

Padahal, kata Eem, anaknya masih ingin melanjutkan sekolah. Sekarang jika melihat temannya sekolah, Eep suka berkata pada Eem, "Emak, lihat tuh, temen Eep mah pada sekolah," tiru Eem.

Kini setelah anaknya putus sekolah, harapan Eem tentang masa depan anaknya yang

lebih baik semakin tipis. "Saya tidak mau anak saya menderita seperti saya. Nyari duit susah, karena cuma jadi buruh tani. Tapi, kalau tidak sekolah, mau jadi apa lagi kalau bukan jadi kuli," ujar Eem yang kini tengah berpikir untuk memberhentikan lagi pendidikan adik Eep yang duduk di kelas dua SD.

"Sudah tiga bulan saya tidak bayar utang ke rentenir. Hutang saya dikenai bunga 20 persen," ujar Eem yang memiliki hutang Rp 200.000. Kemungkinan utangnya kini sudah menjadi Rp 370.000.

 

***

 

Jika mau disebut satu persatu, baik daftar nama anak-anak yang putus sekolah lantaran ketidakmampuan ekonomi maupun kesulitan yang ditimbulkan akibat bencana alam. Jutaan nama Asiah, Abdurrahman, Gunawan dan Eep lainnya akan terus menghiasi lembar hitam daftar anak-anak tidak sekolah dan putus sekolah. Jika dalam kondisi normal saja, semakin sulit bagi orangtua menyekolahkan anak-anak mereka, bagaimana lagi para orangtua di berbagai lokasi bencana yang telah banyak kehilangan harta benda mereka.

 

Sebagai contoh, di Kota Bekasi tercatat 170 ribu anak (usia 7-15 tahun) yang tidak bersekolah. (Tempo Interaktif, 14 April 2007). Sedangkan menurut data Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat Tahun 2004/2005, anak usia 7-18 tahun yang tidak sekolah dan putus sekolah berjumlah 2.993.616 orang. Belum lagi di berbagai provinsi, kota dan kabupaten lainnya di seluruh Indonesia. Meskipun menurut data pemerintah, anak usia 13 - 15 tahun di Indonesia yang tidak bersekolah sekitar 4 juta anak, namun diperkirakan jumlah sesungguhnya mencapai dua kali angka tersebut. Dengan asumsi pada beberapa hal seperti, kemungkinan anak-anak yang tidak terdata, dan pertambahan jumlah data tersebut akibat berbagai bencana yang melanda berbagai wilayah negeri ini.

 

Sebuah survey yang dilakukan Taylor Nelson Soffres, perusahaan penelitian pasar terkemuka terhadap rumah tangga-rumah tangga miskin yang mempunyai anak-anak usia SLTP, menjelaskan data-data sebagai berikut;

 

  • 19% anak usia sekolah di bawah 15 tahun tidak bersekolah

  • Biaya rata-rata untuk menyekolahkan satu anak di SD dan satu anak di SMP untuk satu tahun, termasuk biaya transpor dan seragam, bisa sama dengan 2 bulan upah minimum provinsi.

  • 71% responden yang mempunyai anak tidak sekolah menyebut biaya sekolah sebagai faktor utama.

  • Hanya 50% responden mengetahui kebijakan pemerintah Indonesia mengenai wajib pendidikan dasar 9 tahun. 39% menyangka bahwa wajib pendidikan dasar adalah 6 tahun.

  • Meskipun diakui adanya faktor biaya pendidikan yang tidak terjangkau, terdapat komitmen orangtua yang tinggi terhadap pendidikan. Ini menunjukkan bahwa bila masalah biaya dapat diatasi, partisipasi pendidikan akan meningkat.

 

Dari hasil survei tersebut bisa dilihat bahwa biaya sekolah yang semakin mahal menjadi kendala utama meningkatnya jumlah anak-anak yang tidak sekolah atau putus sekolah. Namun terlihat pula semangat yang menggembirakan bahwa terdapat komitmen yang tinggi dari para orangtua terhadap pendidikan. Partisipasi masyarakat akan masalah-masalah yang berkenaan dengan pendidikan, utamanya pada masalah biaya, sekiranya dapat mengatasi masalah pendidikan di negeri ini.

 

 

Indonesia Sekolah; Sebuah Ajakan untuk Negeri

 

Sebuah gambaran yang cukup mengiris hati, tentu masih ingat kasus Haryanto (12 tahun) di Garut, Jawa Barat, yang melakukan upaya bunuh diri lantaran malu orangtuanya tidak mampu membayar uang SPP. Sementara di berbagai kota lainnya, para orangtua berlomba-lomba memasukkan anak mereka ke sekolah-sekolah mahal dengan biaya mencapai belasan bahkan puluhan juta rupiah.

 

ACT - Aksi Cepat Tanggap, sebagai lembaga kemanusiaan yang menaruh concern pada persoalan kemanusiaan secara umum –tak hanya bencana- melaunch program INDONESIA SEKOLAH sebagai bentuk kepedulian bersama akan masa depan bangsa. Program ini diharapkan mampu menggugah nurani masyarakat Indonesia untuk bersama-sama memajukan pendidikan sekaligus menjadi program berkelanjutan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.

 

Program INDONESIA SEKOLAH merupakan sebuah visi program strategis ACT, bahwa “tidak ada anak Indonesia yang tidak sekolah” di masa yang akan datang. Sebuah visi yang hanya bisa dicapai dengan keterlibatan semua pihak tanpa kecuali. Sebuah ajakan yang tak kalah pentingnya, mari kita teriakkan bersama, “INDONESIA SEKOLAH”.



Donation List
click here to see donors and their donation

Volunteer Sign Up

Volunteer List

Subscribe ACT Mailing List



Bencana Stimulan Ilahiyah
"

Bencana, dimanapun, kapanpun, sebesar apapun, sesungguhnya merupakan program stimulan Allah SWT  untuk direspon – dikelola manusia. Sudah pasti ada hubungan kausalitas antara sebab dan akibat ini. Sunnatullah! Artinya tak mungkin terjadi sesuatu tanpa ada penyebabnya. Sesuatu yang buruk penyebabnya adalah keburukan. Begitu pula sebaliknya, kebaikan itu adalah buah dari kebaikan. Jadi tak mungkin ada bencana tanpa ada penyebabnya. Jika bencana itu kita rasakan sebagai kepahitan, kegelapan, siksaan, kepedihan, dan sejenisnya maka hal itu buah dari yang semakna dengan itu.

"

Ahyudin, Direktur Eksekutif

 


 
© copyright aksicepattanggap.com