Food for School
 
   Kamis, 25 Rabiul Awwal 1431 / 11 March 2010
 
Head Office
Perkantoran Ciputat Indah Permai
Jl. Ir. H. Juanda No. 50
Blok B-8 Ciputat 15419
Telp. +62 21 741 4482
Fax. +62 21 742 0664
Email : info@aksicepattanggap.com

Donation
Rekening ACT Aksi Cepat Tanggap :

Bank BNI Syariah
No. Rek. 96110239

Bank Syariah Mandiri
No. Rek. 0040119999

Bank Mandiri
No. Rek. 1280004555808

Bank Muamalat Indonesia
No. Rek. 3040022915

Bank Central Asia
No. Rek. 6760303133

Transfer Internasional BCA
Swift Code : CENAIDJA

Penelusuran
Cari :


Kategori :


News
Bedanya Kota Padang dan Pariaman; Pengungsi!
2009-10-05 19:29:20

Ada pemandangan yang sangat menyolok jika melihat dua wilayah ini, antara Kota Padang dengan Pariaman. Ini bukan soal keadaan alam, semua orang sudah tahu keindahannya. Juga bukan tentang kekayaan budaya, tanah minang sangat terkenal akan hal itu. Tetapi ini soal kondisi pasca gempa yang mengguncang tanah Sumatera 30 September 2009 lalu. Perbedaan yang sangat menyolok itu setidaknya ada tiga hal; pertama, di Padang tidak terlihat posko atau tenda pengungsi. Sedangkan di Pariaman, kita bisa melihat puluhan ribu pengungsi di berbagai titik dan sepanjang jalan. Kedua, kondisi Padang dengan ratusan jiwa yang meninggal dunia akibat terjebak di reruntuhan gedung sangat dominan diliput media nasional dan internasional. Namun sangat berbeda di Pariaman, sedikit sekali media nasional –apalagi internasional- yang datang meliput. Dan ketiga, akibatnya teramat banyak bantuan masuk ke Padang, namun sangat minim bantuan yang menuju Pariaman. Siapapun Anda yang berkesempatan datang untuk membantu para korban bencana di Sumatera, akan bertanya dimana para pengungsi di Kota Padang. Meski banyak gedung hancur akibat gempa, jangan dibayangkan Anda akan melihat ribuan tenda menghiasi Kota Padang selayaknya pemandangan yang lazim kita temui di banyak lokasi bencana. Kondisi ini terkait berbagai hal, antara lain karena bangunan-bangunan yang hancur dan rata dengan tanah di Kota Padang ini lebih banyak berupa kampus, pusat bimbingan belajar, hotel dan kantor, serta rumah-rumah yang kebanyakan bertingkat. Maka wajar jika banyak korban meninggal di Kota Padang karena yang terjebak di bangunan-bangunan itu jumlahnya masif. Selain itu, pemerintah Kota Padang juga menyerukan kepada warga yang rumahnya tidak hancur agar menampung saudara-saudara mereka yang rumahnya runtuh. Ini wujud dan bukti kuatnya tali persaudaraan di tanah Minang.

Kondisinya sangat berbeda dengan di Pariaman, mulai dari kota hingga ke pelosok desa. Di sana tidak ada gedung bertingkat, namun rumah tinggal yang roboh pun tidak sedikit. Sekitar 80% bangunan di Pariaman roboh, korban meninggal pun cukup banyak mencapai angka 100 jiwa. Lantaran hanya sedikit rumah yang tersisa, maka fenomena pengungsi pun terlihat di mana-mana. Yang menyedihkan, minimnya bantuan ke Pariaman membuat warga terpaksa tidur di alam terbuka, di bawah pohon-pohon, baik orang dewasa maupun anak-anak serta balita. Kondisinya lebih memprihatinkan karena bukan hanya tenda yang tidak mereka miliki, namun juga bahan makanan yang sangat minim. Dikhawatirkan, jika dalam waktu beberapa hari ke depan kondisi ini tidak membaik, maka akan banyak pengungsi yang jatuh sakit.

ACT yang masuk ke beberapa titik di Pariaman, dan langsung membuka posko kemanusiaan di daerah Sungai Limau. Hari pertama masuk ke wilayah Pariaman, malu rasanya karena baru sedikit bantuan yang dibawa. Jumlahnya makin tidak terasa bila dibanding jumlah orang yang seharusnya menerima bantuan. Akhirnya, seluruh konsentrasi bantuan yang akan dialirkan ke Sumatera dominan diarahkan ke Pariaman. “Tim ACT lebih banyak dipasok ke Pariaman, kami hanya menyisakan tim rescue di Kota Padang. Begitu juga logistik, karena sudah banyak yang masuk ke Padang, maka logistik lebih banyak kami arahkan ke Pariaman,” ujar Ahyudin, Direktur Eksekutif ACT, Jum’at 2 Oktober 2009.

Tidak seperti Kota Padang yang hampir setiap hari mendapat sorotan media karena proses evakuasi para korban, di Pariaman sangat minim pemberitaan. Memang baik pemberitaan media tentang gempa Sumatera ini yang bertujuan menggugah jiwa peduli masyarakat Indonesia. Namun sayangnya konsentrasi pemberitaan lebih dominan pada proses evakuasi, guna menyelamatkan korban yang diharapkan masih hidup meski sudah berhari-hari di dalam reruntuhan. Sayangnya, ketika tim rescue membongkar reruntuhan lebih banyak korban yang ditemukan dalam keadaan tak lagi bernyawa. Bersyukur ketika bisa mengeluarkan korban yang masih hidup meskipun memerlukan waktu yang cukup lama.

Konsentrasi bantuan yang diarahkan ke Pariaman adalah keputusan yang jarang diambil oleh sebagian pihak. Padahal jelas-jelas puluhan ribu pengungsi bertahan hidup dengan bantuan seadanya, makanan yang sedikit dan tidur tanpa tenda. Tindakan penyelamatan seharusnya juga banyak dilakukan di wilayah ini, mereka yang masih hidup namun dalam kondisi yang serba terbatas jelas harus diselamatkan. Jika dibiarkan dalam kondisi keterbatasan itu, bukan tidak mungkin akan menyebabkan lebih banyak jatuh korban. Prinsip dasar emergensi adalah, cari dan selamatkan yang hidup! Maka di Pariaman, tidak perlu dicari mereka yang hidup, namun sudah pasti mereka harus diselamatkan.

Tim medis ACT bekerja sama dengan Perhimpunan Ahli Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI) Medical Relief bekerja siang malam menyambangi ratusan titik pengungsi. Mereka sudah nampak kelelahan karena tidak banyak tim medis yang masuk ke pelosok desa. Persediaan obat pun sudah menipis, dan harus segera dipasok tim medis serta obat-obatan yang lebih banyak dalam dua hari ke depan. Melihat persediaan obat yang ada, diperkirakan hanya bertahan paling lama dua hari lagi. Tim ACT di Jakarta tengah menyiapkan beberapa tim dokter lain yang akan membantu tim medis yang sudah ada.

Bantuan berikutnya yang akan dikirim ke Sumatera sebaiknya difokuskan ke tenda-tenda keluarga (family tent), sembako, makanan anak dan balita serta tim medis. Yang sering disalah artikan adalah bentuk dan model tenda keluarga, lebih sering diwujudkan dalam bentuk terpal berukuran 5 x 7 meter. Padahal bukan itu yang dimaksud, melainkan tenda keluarga yang didisain khusus mampu menampung sekitar 6 orang dan bisa bertahan hingga beberapa bulan. Begitu pula dengan logistik yang diberikan, seringkali belum memenuhi standar gizi yang cukup, padahal dengan kondisi yang memprihatinkan, pengungsi selayaknya mendapat asupan gizi yang baik agar mampu bertahan dan tetap sehat.

Rasanya, lengkap sudah penderitaan para korban gempa ini. Rumah hancur, kehilangan keluarga, minim bantuan, kalau pun ada bantuannya belum memenuhi standar gizi, relawan sedikit, jumlah tim medis juga tidak memadai. Wajarlah jika Direktur Eksekutif ACT menegaskan, “Jangan masuk ke wilayah pengungsi tanpa membawa bantuan!” Sebuah seruan tegas yang berangkat dari hati yang tercabik melihat kondisi para pengungsi yang memprihatinkan. Semoga, masyarakat peduli di seluruh penjuru Indonesia tidak bosan digugah oleh ACT. Terima kasih. (Gaw)

ACT bersama sejumlah mitra terus berupaya menggalang donasi dan dukungan seluruh masyarakat Indonesia maupun luar negeri untuk turut berpartisipasi membantu saudara-saudara kita yang telah tertimpa bencana di Sumatera Barat dan Jambi. Donasi sahabat dapat disalurkan melalui rekening :  

1. BCA # 676 030 3133
2. BNI # 014 076 5481
3. BSM # 004 011 9999
4. Muamalat # 304 0022 915
5. BNI Syariah # 009 611 0239
atas nama Aksi Cepat Tanggap.

Jemput donasi dapat melalui SMS 0811824238, CARE LINE 021-741 4482.
http://actforhumanity.or.id

Informasi Aktual
BNI 46 Datangkan 3 Truk Logistik

Untuk menjaga ketersediaan logistik, BNI 46 dan BAMUIS BNI 46 mengirimkan berbagai logistik yang dibawa 3 truk. Isinya antara lain beras, air mineral, sayur mayur, daging ayam, bubur bayi, telur, minyak goreng, dan lain-lain. Selain itu, truk tersebut juga berisi pembalut, personal hygiene, dan sandang layak pakai. Gempa bumi yang disusul oleh bencana tanah longsor di desa Cikangkareng membuat masyarakat harus mengungsi karena rumah mereka sudah rusak dan khawatir terjadi gempa dan longsor susulan.


Penyaluran Bantuan ACT-Unilever Tembuh Daerah Terpencil

ACT salurkan bantuan kemanusiaan dari Unilever untuk korban bencana gempa di Garut. Sampai saat ini bantuan berupa kebutuhan sehari-hari telah didistribusikan di Kabupaten Garut telah dinikmati para korban gempa  di lima desa di Kabupaten Garut.



Humanitarian Care Society
Daftar Donatur
klik di sini untuk melihat donatur dan donasi mereka.

Daftar Relawan
masih banyak saudara kita yang membutuhkan bantuan tenaga kita, segera daftarkan diri anda jangan tunda lagi. klik di sini untuk mendaftar. Klik di sini unutk melihat daftar terdaftar.

Join ACT Mailing List (milis)


Our Partners